Feb 19 2009

Gresik gelar Desa Expo I

Bisnis Indonesia: 20/02/09

Surabaya: Pemkab Gresik, Jwa Timur, menyelenggarakan Desa Expo I 2009 berupa pameran produk unggulan, seperti kerudung, songkok, produk rotan, kerajinan pelepah pisang dan konveksi, di Desa Pongangan, Kec. Manyar, 21-23 Februari.

Kepala Bagian Humas Pemkab Gresik Hari Syawaluddin mengatakan pameran itu untuk menjajaki pendirian sejumlah sentra industri kecil di Gresik, yang memiliki beragam potensi usaha kecil.

Desa Expo direncanakan berlangsung setiap tahun, tahun ini disediakan 50 unit stan pameran yang melibatkan sedikitnya 200 usaha kecil dari pedesaan, “ujarnya kemarin.

Jan 8 2009

How To Identify a Target Market

By Daniel A

target-marketBefore beginning your advertising campaign, it is important that you first identify your target market. A target market is basically the type of person that will want or need your product or services. By targeting a specific market, you will be able to save money by spending less on marketing and increase marketing. The process of identifying a target market is called market segmentation. Using market segmentation, a business can use a top-down approach to identifying a target group or niche. Once you have identified a niche using target segmentation, you will be able to concentrate your efforts on marketing to attract a specific consumer group.

As a business owner or executive, you have probably heard of using market research .

Market research is the process of using various techniques to collect, analyze, and report data about potential consumer groups. Formal market segmentation requires comprehensive market research. The market research will help you to identify quantitative and qualitative patterns in consumer groups. Quantitative data refers to numbers such as age, income, and family size while qualitative data relies on characteristics such as education, occupation, and personality. There are severals ways you can go about segmenting a population to target a market. Some are more relevant to your business than others. The following describes different aspects of market segmentation that will help you in identifying a niche and maximizing your marketing dollars.

1. Demographics:

  • Age: Teenagers targeted by acne medication company.
  • Income: A person earning $200,000 is more likely to purchase a Cadillac than a person earning $10,000.
  • Family size: Wholesale distributors that keep prices low by selling in bulk would target larger families.
  • Education: A calculator company may target high school math students.
  • Occupation: A shoe company might sell a shoe targeted for construction workers.
  • Gender: A handbag company will target women.
  • Nationality/Race: A small business selling foodstuffs from Africa would target the immigrant African community.

2. Geography:

  • Region of the world: The shoe company, Puma, most aggressively targets consumers in Latin America and Europe for their soccer shoes.
  • Climate: A snow plow manufacturer will target areas where it snows.

3. Behaviors:

  • Brand loyalty: Apple targets a niche of consumers loyal to its products.
  • Value of quality: Higher-end watch companies like Seiko target consumers that value high-quality timepieces.

4. Psychographic:

  • Personality: A person who likes to show off is more likely to buy a Hummer H2 than a reserved person.
  • Lifestyle: A shoe company like Vans, that sells skateboarding shoes would target skateboarders with their advertising.
  • Interests: Stores that sell arts and crafts materials target hobbyists and students alike.

5. Other Questions to Ask in Market Research:

  • Readiness to buy: How soon will they purchase your product?
  • Frequency of purchase: How often will they purchase your product?
  • How likely are they to purchase your type of product?
  • What kind of music do they like?
  • What kind of ____(fill in the blank) do they like?

6. Types of Market Research:

  • Surveys are the most commonly used and least expensive market research method available. They can be conducted online, in person, or by phone.
  • Focus groups are a method by which companies gain feedback on products by asking questions in an interactive group setting. This method might also be used to gain feedback on services, concept, advertisement, ideas, or packaging.

7. An Introduction to Surveys:

  • Establish goals of survey. What market segmentation criteria will you use? Ask specific questions so you won’t lose sight of your target.
  • Sample size. Who will be asked to complete the survey? The sample size should be as random as possible to ensure a variety of different type of people complete it. Also, the greater the sample size the greater the accuracy of the research.
  • Method.

1. Personal interview: Ask past customers to answer some of your questions.

2. Telephone: Hire telemarketers to conduct the surveys for you.

3. Mail: Purchase the addresses from direct mailing companies and mail in bulk.

4. Web-based: Search for a website with a survey panel that has existed for a long time and has good results for past clients. You can also conduct your own research by putting surveys on your website or sending e-mail messages with links to your survey.

  • Planning the research.
    1. How much will the research method take?
    2. How long will it take to write and edit a survey?
    3. When will you implement the survey?
    4. When will you complete the survey and analyze the data?
  • Processing and analyzing data.

1. For large market research campaigns with a very large sample size, computer software is a must. You might want to hire a company that conducts surveys or someone familiar with statistics to help you with this aspect.

2. For smaller market research campaigns you can simply look through the surveys and get an idea of what your niche is.

3. Create a report detailing your findings and how it will fit into your marketing plan.

Dec 23 2008

Strategi Harga

strategi-hargaBagaimana anda mengset strategi harga produk dan jasa sehingga dapat meningkatkan penjualan. Beberapa strategi harga dibawah ini dapat dicoba dan sesuaikan dengan tipikal produk dan jasa anda.

Cost-Based Pricing yaitu penetapan harga sebuah produk dan jasa berdasarkan biaya produksinya, baik fix cost maupun variable cost.

Produk yang menggunakan strategi harga ini biasanya ada pada barang mass production yang tidak menekankan pada nilai tambah sebuah produk karena relatif dapat diproduksi siapa saja. Misalnya sabun mandi, sabun cuci dsb. Sehingga bagi perusahaan yang mampu menciptakan efisiensi biaya sekaligus memperbaiki kualitas maka harga jual menjadi lebih murah dari pesaing.

Konsekuensi pemilihan strategi ini ada pada profit margin yang diperoleh sangat kecil. Namun karena diproduksi secara mass production maka peningkatan profit diperoleh dengan meningkatkan penjualan secara massa pula.

Demand-Based Pricing dimana harga sebuah produk sangat tergantung dari persepsi konsumen dalam menilai sebuah produk. Semakin tinggi persepsi nilai sebuah barang dan tingginya minat maka harga akan semakin tinggi pula hingga margin yang tak terbatas. Oleh sebab itu produsen pun akan menempatkan nilai sebuah produknya dengan istimewa dan menciptakan image didalamnya. Produk seperti ini misalnya mobil mewah, rumah mewah, keanggotan club dsb

Konsekuensinya perusahaan harus mampu memahami knowledge (segala hal) tentang kualitas produk, harapan tertinggi konsumen, dan target marketnya. Perusahaan harus terus menerus memahami kebutuhan konsumennya dan meningkatkan skill untuk meningkatkan prestige dari produk yang ditawarkan.

Competition-Based Pricing ditetapkan karena berhubungan dengan harga yang ditawarkan pesaing. Ditujukan untuk mengalahkan pesaing dengan menawarkan harga lebih rendah dengan kualitas barang yang kurang lebih sama atau lebih baik dari pesaing. Dalam banyak kasus harga jual jadi lebih rendah dari biaya produksinya. Tujuan dari strategi harga ini lebih pada price war untuk mengalahkan atau bahkan mematikan pesaing.

Konsekuensinya menimbulkan biaya tinggi dalam jangka panjang bila pesaing terlalu kuat untuk ditaklukkan. Bila perusahaan menguasai pangsa pasar yang cukup besar mungkin strategi ini akan efektif, tetapi dalam market yang sangat kompetitif akan sulit.

Value Pricing memberikan kualitas produk yang lebih dibanding dengan harga yang dibayarkan konsumen. Konsumen akan mendapatkan produk yang lebih bernilai dengan harga sesuai atau lebih rendah dari yang mereka tawar.

Strategi ini dilakukan karena ingin meningkatkan market share, mengenalkan produk ke pasar, atau memosisikan produk pada konsumen tertentu.

Konsekuensinya maka kualitas produk haruslah konsisten dan terus meningkatkan efisiensi dalam operasional perusahaan. Perusahaan harus mengenali konsumennya dan mengetahui produk pesaing.

Strategi harga mana yang tepat untuk diterapkan tergantung dari analisa mengenai kondisi market, pesaing, dan konsumen serta bagaimana produk diposisikan.

Dec 10 2008

Mengelola Diri Sendiri

mengelola-diri-sendiri1Seorang entrepreneur harus bisa mengelola diri sendiri, karena dia akan menjadi bos untuk dirinya dan mengambil manfaat serta terus menerus menggali potensi dirinya.

Mengelola diri sendiri penting karena potensi yang ia punyai sesungguhnya bisa lebh lama eksis ketimbang bisnis yang dia rintis. Artinya bisnisnya mungkin bisa saja jatuh bangkrut tetapi tidak demikian dengan potensi dirinya yang akan terus ada untuk kemudian bisa bangkit kembali.

Bagaimana mengelola diri sendiri?

Kuncinya adalah dengan mengenal diri anda sendiri. Apa potensi yang dimiliki, apa kekuatan anda, apa kelemahan anda, bagaimana anda bekerja untuk mencapai harapan yang diinginkan, apa nilai-nilai kerja anda, dimana tempat anda mampu berkarya dan dimana tempat anda yang tidak mampu berkarya, kenali dan sesuaikan.

Hal yang penting kemudian adalah umpan balik berupa analisa diri yang mencatat apa harapan-harapan anda dan bandingkan dengan factual yang telah dilakukan. Setelahnya buat adjustment penyesuaian sebagaimana yang anda harapkan.

Disarikan dari Management Challenges for the 21st Century Managing Oneself (Corpodia Online Media) Peter F. Drucker

Dec 8 2008

Four Ps of Marketing Mix

4pencils2

What is Marketing Mix?

McCarthy in his book classified marketing mix tools which he called four Ps of marketing: product, price, place, and promotion.

Product:

  • Product variety
  • Quality
  • Design
  • Features
  • Brand name
  • Packaging
  • Sizes
  • Services
  • Waranties
  • Returns

Price:

  • List price
  • Discount
  • Allowances
  • Payment period
  • Credit term

Place:

  • Channels
  • Coverage
  • Assortments
  • Locations
  • Inventory
  • Transport

Promotion:

  • Sales promotion
  • Advertising
  • Sales force
  • Public relations
  • Direct marketing

Therefore, the four Ps represent the seller’s view of the marketing tools available for influencing buyers. From a buyer’s point of view, each marketing tool is designed to deliver a customer benefit.

In other way, Robert Lauterborn suggested that the seller’s four Ps corresponded to the customer four Cs.

Four Ps ==> Four Cs

Product ==> Customer solution

Price ==> Customer cost

Place ==> Convenience

Promotion ==> Communication

Winning companies will be those that can meet customer needs economically and conveniently and with effective communication.

Practically there are two themes of integrated marketing are that (1) many different marketing activities are employed to communicate and deliver value and (2) all marketing activities are coordinated to maximize their joint effects. In other words, the design and implementation of any one marketing activity is done with all other activities in mind. Business must integrate their system for demand management, resource management, and network management.

Dec 7 2008

Creative Entrepreneurs

creative-people1Kreatifitas adalah salah satu kreteria penting bagi entrepreneurs bahkan entrepreneur yang tidak kreatif bukanlah entrepreneur.

Mengapa demikian?

Entrepreneur harus jeli melihat pasar, bukan saja untuk mencari apa yang diminati pasar tetapi seorang entrepreneur juga harus mampu menciptakan pasarnya sendiri.

Ya. Menciptakan pasarnya sendiri

Dengan menciptakan pasarnya sendiri maka pasar seolah “dipaksa” mengkonsumsi barang dan jasa yang sengaja diproduksi oleh seorang entrepreneur. Siapa yang mengira bahwa orang Indonesia yang aslinya bukan pemakan french friesh bisa mengkonsumsinya bahkan akhirnya sangat menggemari french friesh. Siapa sangka media survey seperti Deteksi Jawa Pos yang kreatifitasnya justru muncul dari sebuah koran harian lokal Jawa Pos, kemudian menjadi sangat populer dan digemari para remaja, bahkan menjadi cikal bakal lahirnya berbagai kompetisi seperti kompetisi mading (baca: majalah dinding) untuk siswa SMU yang super heboh di Surabaya dan juga kompetisi liga bola basket deteksi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Deteksi Basketball League atau disingkat DBL, hingga mereka membangun gedung sport bola basket yang megah dengan nama sama di Surabaya. Dengan kreatifitasnya mereka menciptakan pasarnya sendiri.

Siapakah entrepreneur creative di Indonesia versi majalah Swa? Inilah 10 besar diantaranya:

1. Ahmad Dhani Prasetyo - Republik Cinta Artist Management

2. Anastassia Florine Limasnax - E-motion

3. Anne Avantie - Memodifikasi kebaya dengan kreatifitas tanpa batas

4. Arief Maskom - Ouval Research (clothcing company)

5. Bram Hendrata, Christian Rijanto dan Brian Sutanto - Group Ismaya (juragan resto modern)

6. Cahyoko Bahar Sarjito - Jedok Stonework (keramik mozaik unik)

7. unkl347 - dari Rp 200 ribu

8. Engelbertus Emil Eriyanto - MKE Wedding Organizer

9. Dhamoo dan Manoj Punjabi - MD Entertainment

10. Fadia Yusuf - Batik Allure

Selengkapnya hingga 50 creative entrepreneurs dapat dilihat pada majalah swa edisi No 25 November - Desember 2008

Nov 3 2008

Tampilan dengan domain baru

Terima kasih untuk mas Nurudin Jauhari yang memberikan inspirasi kepada saya untuk tampilan yang lebih pro dan fresh dengan domain baru ahafid.com yang merupakan pengembangan dari blog sebelumnya ahafid.wordpress.com.

Blog dengan domain baru ini menjadi sangat istimewa karena dilaunching tepat pada hari ulang tahun saya tanggal 2 November.

Semoga tampilan blog yang baru ini memberi semangat tersendiri bagi saya pribadi dan teman-teman untuk urun rembuk sebagai solusi bisnis kita bersama.

Salam

ahafid.com

Oct 24 2008

Owner Mind Set

strategic entrepreneurship

Jeff Bezos

Pernahkah anda berempati pada apa yang dipikirkan pemilik perusahaan - bos anda - untuk mejalankan roda usahanya. Menjelang lebaran, sebagian besar karyawan akan mengharapkan THR-an dan sibuk mengalokasikan jadwal belanjanya disamping juga menjadwal cuti untuk pulang kampung berkumpul bersama keluarga. Belum lagi tuntutan karyawan lainnya atas kenaikan gaji tahun depan, bonus karena target terpenuhi, bonus tahunan dan tunjangan lainnya.

Pernahkan terlintas dalam benak anda bagaimana bos anda setiap saat berfikir keras untuk menjalankan roda perusahaan, mencari peluang usaha, menyusun rencana dan anggaran belanja, dan bahkan memikirkan kesejahteraan karyawannya.

Dengan kata lain, pernahkan anda terlintas untuk memiliki owners mind set, yaitu cara berpikir sebagai pemilik perusahaan. Bila jawabannya, ya pernah, berarti setidaknya anda masih ada jiwa entrepreneur.

“Cerita” yang menarik ini diulas secara sederhana namun jelas di majalah SMS - Entrepreneurship Magazine edisi Indonesia October 2008 pada artikel Insight oleh John Fink.

Owner mind set berbeda dengan employee mind set. Mind set karyawan adalah bila dia digaji Rp 20.000 per jam maka bila dia kerja selama 40 jam dalam seminggu maka dia akan menerima Rp 800.000 tetapi dia juga menginginkan mendapatkan gaji Rp 8.000.000 per minggu. Sedangkan owner mind set bila dia memulai usaha maka dia mungkin tidak akan dapat profit apa-apa pada minggu pertama, bulan pertama atau bahkan belum mendapatkan hasil apa-apa hingga beberapa tahun ke depan.

Sebagai ilustrasi kasus Jeff Bezos pendiri Amazon.com yang meninggalkan pekerjaan utamanya dengan gaji $ 1 juta dollar setahun untuk memulai bisnisnya sendiri pada tahun 1994. Baru di tahun ke tujuh yaitu th 2001, Amazon.com baru membukukan keuntungan $ 5.1 juta dollar. Bila Jeff Bezos hanya punya employee mind set niscaya dia tidak akan meninggalkan posisinya sebagai karyawan yang mapan dengan gaji $ 1 juta dollar setahun. Namun karena owner mind set dimiliki oleh Jeff Bezos maka dia siap menanggung segala konsekuensinya, termasuk tidak mendapat profit selama 7 tahun awal usahanya.

Bagaimana dengan anda?

Nov 14 2007

Sebuah Pilihan Sukses

Artikel yang saya kutip dari rmexpose.com mungkin dapat menjadi inspirasi bagi lulusan SMU/sederajat bila ingin melanjutkan jenjang studinya.

Kisahnya juga dapat dibaca dibawah ini:

TUNDA KULIAH, PILIH URUS BISNIS ORANG TUA

Terlahir dari keluarga mampu dan sukses, tidak menjadikan di­ri­nya malas dalam menjalankan bis­nis karir. Untuk membesarkan usa­ha yang dirintis orang tuanya itu wanita bernama Ajeng Astri Pe­ni ini rela menunda studi S1-nya.

Wanita yang akrab disapa Ajeng ini memang bukan tipe anak hura-hu­ra, seperti teman-teman se­ba­ya­nya. Diusianya yang masih relatif mu­da, dia sudah dipercaya men­du­duki posisi Manager di restoran yang berdiri sejak 2006 lalu.

Wanita kelahiran Jakarta, 20 ta­hun silam ini mengaku bangga ka­rena diberi kepercayaan orang tua­nya untuk membesarkan restoran ma­kanan yang diberi nama “Resto” di bilangan Jakarta Barat.

Ajeng mengaku sengaja me­nun­da kuliahnya untuk mengurusi usa­ha peninggalan orang tuanya. Ka­rena orang tuanya sibuk mengurusi bis­nis lain. “Ini merupakan tang­gung jawab moral seorang anak ke­pada orang tua yang telah merawat dan membesarkan saya,” ucapnya.

Tidak hanya sebatas tanggung ja­wab saja, Ajeng pun banyak men­da­pat pengalaman baru dibisnis ma­kanan yang menurutnya punya daya tarik tersendiri.
Selain keinginan yang kuat mem­besarkan bisnis keluarganya, ia juga memiliki motivasi untuk bi­sa mensejahterakan 24 kar­ya­wan­­nya.

Bagi Ajeng, karyawan itu aset berharga dalam usahanya. Maka da­ri itu, ia kerap memberikan mo­ti­vasi pada setiap karyawanya, se­hing­ga mencitai dan ber­tang­gung jawab dalam setiap tugasnya. Me­nurut Ajeng, maju mundurnya se­buah usaha tergantung kepada hasil dan kinerja karyawan. Se­hing­ga, jika bisnisnya maju, maka kesejahteraan karyawan juga akan meningkat.
Di tengah persaingan bisnis ma­kanan yang terus meningkat di wi­layah Jakarta, tampaknya Ajeng ti­dak meras gentar bersaing. Se­bab, restorannya punya hidangan “pa­mungkas” yang tidak ada di res­toran lain.

Dia yakin restorannya memiliki pang­sa pasar khusus dan ada yang fa­na­tik. Sehingga, kehadiran res­toran sejenis yang juga me­nawar­kan bebek go­reng se­­bagai me­nu an­dalan, tidak akan membuat pe­­langgannya ber­pin­dah kelain hati. rm

Komentar:

Sebuah pilihan memang berat, tetapi pernahkah kita mengambil keputusan yang tidak lazim bagi kebanyakan orang. Salah satu keberanian mengambil keputusan tersebut, sekalipun tak lazim, sebenarnya bagian dari jiwa entrepreneur. Banyak kisah sukses berawal dari suatu keputusan yang tak lazim dan diikuti dengan kesungguhan konsisten atas keputusannya.

Keberanian mengambil keputusan merupakan modal kuat dan ciri khas orang sukses, setelah kemudian melakukan kerja keras dan kesungguhan. Dan hal ini perlu dibina sejak usia muda. Tidak banyak anak-anak lulusan SMU yang berani mengambil keputusan besar yang berkaitan dengan masa depan mereka selain hanya mengulang-ulang apa yang dilakukan pendahulunya, yaitu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi sekalipun biaya untuk itu tidak ada.  Bagaimana kita memilih subuah pilihan untuk sukses?

Nov 8 2007

Ngeblok yang singkat

Sekarang ada wadah baru bagi para blogger yang tertarik posting dengan singkat alias micro posting. Posting singkat seperti ini menarik karena seakan real time atau dibuat kronologis, sehingga mereka menamainya sebagai kronologger. Lebih lanjut dapat dibaca juga di blog Andri Setiawan, atau dapat dilihat juga pada wikinya.

Kroner sebutan bagi mereka, semakin berkembang dengan diperkenalkannya kronologger di ABN. Komunitas ini juga memiliki weblog. Kini kronologger semakin asyik dengan fasilitas posting secara mobile, sehingga real time benar-benar terjadi.

Siapa ingin mencobanya